Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

Putih Abu-Abu

putih, bisa saja menjadi abu-abu, lantaran kehidupan begitu unik, lihatlah, manusia bernafas setiap kali dan setiap kali itu adalah sesuatu yang akan segera terlewati, takkan pernah kebali,, sempoyongan, kulihat sesekali wajahmu, yang putih mejadi abu-abu, kulihat sesekali yang abu-abu mejadi putih, kuamati dan kulihat sebuah proses, sebuah jalan menuju angka 100, kesempurnaan.. hidup diantara dua warna, anatara perjuangan dan antara nasib, mana yang lebih kuat dan akan bertahan..? ada semuanya, ada kedua-duanya, tidak ada yang kalah, semuanya menang.. putih abu-abu telah membawaku pada dua jalan yang masih berjalan, antara ada dan pengadaan, antara fakta dan kemunafikan, dan semauanya ada didalam raga ini, membentuk otot, dan daging ini, menjalankan raga ini, menghidupkan hati ini,, putih abu-abu, segeralah berlalu..

Ketidaknyamanan Ini

sadar dan sangat sadar, sadar akan pelajaran alam kepada jiwa selama ini, akhirnya bisa juga ditarik kesimpulan, bahwa ketidaknyamanan akan menjadi sebuah prestasi, kegelisahan adalah ujung tombak dari perjuangan, untuk bisa tetap disini, berdiri menunggu hari, untuk bisa tetap disini, bersama kehidupan yang berarti, ketidaknyamanan telah banyak mengajarkan hidup, dari pahitnya hati, dari bahagianya jiwa, ada semuanya, aku telah ada disini dan akulah hasilnya, aku belajar mengelola hidup dari semua ketidakpastian, ketidakpastian telah menelantarkanku pada pada sebuah jalan, jalan itu benar-benar ada, dan membuatku semakin ada, akhirnya kini ku sadar, Tuhan memang begitu Agung, Dia pandai sekali mendidik hambanya,,

Rinjani

alam akan menjadi pembatas antara kesukaanku pada dunia, akan menjadi dan akan memberi, menunjuk jalan sepi yang damai, sedikit berbuat untuk kemunafikan dan akan banyak menikmati indahnya kebaikan, sengaja aku menenggelamkan diri, kepada rerumputan ilalang, yang basah di waktu pagi dan begitu kering di siang hari.. adalah bebatuan dan pasir yang kasar yang selalu menemani, kesetiaanya tiada terganti, sampai pada bilangan waktu ini habis, ungkin belum usai juga mereka bersama,, biarkan aku ikut menemani ketenanganmu yang hanya terusik jikala para perusak, pecinta keindahan datang, aku kan bersamamu, bersama kedamaianamu dan bersama kesetiaanmu, belajar bahagia dengan segala yang kumiliki, paling tidak raga ini yang masih bisa untuk melangkah menemuimu,, terimakasih, engkau mimpiku Gunung Rinjani,,