Langsung ke konten utama

Edelwies


awalan cakrawala membentang luas di dataran tinggi, di dekat langit,
dua hari bergelut dengan dingin dan pans,
menerjang batu dan rerumputan,
hewan-hewan liar serta jiwa-jiwa dunia yang berbeda,,

kasar kaki, sempoyongan badan serta lengketnya kulit,
adalah saksi bisu sebuah perjuangan,,
dau hari bergelut dengan waktu, dengan harapan-harapan indah,
ada disana, di pucak gunung lawu,,

kurabah setiap renjolan batu untuk aku bertahan,
kusikap pepohonan, tempat untk aku berteduh, mengambil nafas,
perjalanan yang indah dengan seribu mata yang tidak aku ketahui, penguasa alam
jiwa ini memang lemah, tapi tidak ketika bersentuhan dengan kuasa-Nya,,

aku telah berkesempatan untuk mengerti,dan mengetahui
aku telah berkesempatan untuk melihat,
aku telah berkesempatan untuk memetiknya,
dengan agak pilu aku menjaganya, dari rusak dan ketidak indahan,
kujaga dari angin, air dan benturan yang merusak estetika karunia terhadapnya,

aku telah berkesempatan untuk memberikanya,,
ada disuatu tempat dimana aku percaya seseorang akan menjaganya,
ranah detik sudah menjadi menit,
menit telah meninggalkan jam dan hari telah terlampaui,
bulan dan tahun akan segera menjadi saksi,,

aku ragu, apakah masih ada,
apakah seseorang  masih menjaganya,
Edelwies...

Komentar

  1. hmmm... terus gw harus bilang wow gitu? ckckk..

    BalasHapus
  2. bilang apa aja boleh deh mas,, asal jangan bilang "cyiiin",, aku rada ngaeri dengernya,, hahhaha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

akal dan logika

Jika aku berandai-andai, berlari menembus batas imajinasi menyelinap diantara bebatuan yang kasar kemudian aku bersembunyi di sekitarnya.. Duduk terdiam dan tersungkur keragu-raguan,, Mengamat-amati disetiap sudut batas pandangan mata yang bias karena cahaya.. Aku berfikir lagi dan nyatanya kutemukan sebuah pertanyaan yang tak bertulang.. " Kenapa aku harus berlari, bersembunyi bahkan d tempat yan g jauh..? Sedangkan aku masih saja mengamat-amati perang antara hati dan logika dalam diri ini.. Ku katakan kepada mereka.. Seandainya aku mati, akan ada di manakah kalian? Apakah logika dan hati akan terus bertengkar? Sejenak mereka diam.. Kedua mata tertuju pada sudup pandangan yang berbeda, kemudian mendekat dan akhirnya semua tertuju padaku yg wajahnya sedang kepayahan.. Masih kutatapi mereka,, Sungguh sayang jika aku harus kehilangan kalian., Batas dari segala kemampuanku adalah kalian.. Kalian adalah sisi terbaik dalam hidup ini.. Jika hati tersakiti logika punya bny...

jenuh berada di dalam titik

Jenuh berada dalam titik.. Siapa ya aku ini.? Kenapa sekarang aku bisa da di sini.? Hari-hari yang pendek akan selamanya pendek,, Hari hari yang panjang akan selamanya panjang,, Hanya rasa-lah yang akan membuat semuanya menjadi seperti itu Aku yang bimbang kini telah mengalami kebingungan,, kenapa aku koq bisa bimbang,? Apakah karena banyak pekerjaan , rutinitas sehari-hari yng membosankan? , yah mungkin karena itu.. Hidup ini terasa monoton bagiku saat ini,, tidak ada hal yang membanggakan kecuali dapat tidur , bangun , makan, tidur, bangun makan, seperti hewan,, pun kini telah menjadi hal yang membosankan juga,, Mungkin dengan duduk, di dean komputer, menjelajahi dunia, memperluas cakrawala, berinteraksi dengan orang asing yang akrab, ataupun hanya sekedar mencari kenikmatan sesaat, pun kini telah menjadi hal yang menjenuhkan. Aku juga tak tahu, kenapa rasa-rasanya hidup sekarang ini begitu membosankan, aku kehilangan aku yang benar-benar aku, aku yang aku, aku yang kata ka...