awalan cakrawala membentang luas di dataran tinggi, di dekat langit,
dua hari bergelut dengan dingin dan pans,
menerjang batu dan rerumputan,
hewan-hewan liar serta jiwa-jiwa dunia yang berbeda,,
kasar kaki, sempoyongan badan serta lengketnya kulit,
adalah saksi bisu sebuah perjuangan,,
dau hari bergelut dengan waktu, dengan harapan-harapan indah,
ada disana, di pucak gunung lawu,,
kurabah setiap renjolan batu untuk aku bertahan,
kusikap pepohonan, tempat untk aku berteduh, mengambil nafas,
perjalanan yang indah dengan seribu mata yang tidak aku ketahui, penguasa alam
jiwa ini memang lemah, tapi tidak ketika bersentuhan dengan kuasa-Nya,,
aku telah berkesempatan untuk mengerti,dan mengetahui
aku telah berkesempatan untuk melihat,
aku telah berkesempatan untuk memetiknya,
dengan agak pilu aku menjaganya, dari rusak dan ketidak indahan,
kujaga dari angin, air dan benturan yang merusak estetika karunia terhadapnya,
aku telah berkesempatan untuk memberikanya,,
ada disuatu tempat dimana aku percaya seseorang akan menjaganya,
ranah detik sudah menjadi menit,
menit telah meninggalkan jam dan hari telah terlampaui,
bulan dan tahun akan segera menjadi saksi,,
aku ragu, apakah masih ada,
apakah seseorang masih menjaganya,
Edelwies...
hmmm... terus gw harus bilang wow gitu? ckckk..
BalasHapusbilang apa aja boleh deh mas,, asal jangan bilang "cyiiin",, aku rada ngaeri dengernya,, hahhaha
BalasHapus