Jika aku berandai-andai, berlari menembus batas imajinasi menyelinap diantara bebatuan yang kasar kemudian aku bersembunyi di sekitarnya..
Duduk terdiam dan tersungkur keragu-raguan,,
Mengamat-amati disetiap sudut batas pandangan mata yang bias karena cahaya..
Aku berfikir lagi dan nyatanya kutemukan sebuah pertanyaan yang tak bertulang..
" Kenapa aku harus berlari, bersembunyi bahkan d tempat yang jauh..?
Sedangkan aku masih saja mengamat-amati perang antara hati dan logika dalam diri ini..
Ku katakan kepada mereka..
Seandainya aku mati, akan ada di manakah kalian?
Apakah logika dan hati akan terus bertengkar?
Sejenak mereka diam..
Kedua mata tertuju pada sudup pandangan yang berbeda, kemudian mendekat dan akhirnya semua tertuju padaku yg wajahnya sedang kepayahan..
Masih kutatapi mereka,,
Sungguh sayang jika aku harus kehilangan kalian.,
Batas dari segala kemampuanku adalah kalian..
Kalian adalah sisi terbaik dalam hidup ini..
Jika hati tersakiti logika punya bnyk cara untuk mengobatinya..
Jika logika tersesat ada hati sebagai tuntunan melangkah yang terbaik..
Kalian adalah aku"
Suara angin mengagetkanku,
Kenapa aku harus berada di sini..
Ah paling tidak aku bisa menemukan pemikiran seperti ini..
Aku tersadar karena akal dan logika belum cukup mampu untuk menjalani hidup.,
Ah bukan tidak mampu hanya perlu penguatan..
Dan waktu telah mengubah warna dari kegelapan kini jingga,, aku tersadar dunia masih mengajakku untuk berlari..
Menembus batas menemukan kebutuhan hati dan logika serta raga ini..
Dalam nuansa hening aku berdoa,,
' Tuhan, engkau tidak akan pernah mengharapkan sesuatu dariku, aku tau itu..
Tapi Tuhan aku masih selalu membutuhkan kehadiranMu sebagai penuntun arah hati dan logika bertindak..
Tuhan, hebat-hebatkanlah diri ini supaya aq bisa membahagiakan orang-orang yang aq cintai, yg mencintaiku, yg dekat dganku dan yg jauh dariku..
Amiin..
Duduk terdiam dan tersungkur keragu-raguan,,
Mengamat-amati disetiap sudut batas pandangan mata yang bias karena cahaya..
Aku berfikir lagi dan nyatanya kutemukan sebuah pertanyaan yang tak bertulang..
" Kenapa aku harus berlari, bersembunyi bahkan d tempat yang jauh..?
Sedangkan aku masih saja mengamat-amati perang antara hati dan logika dalam diri ini..
Ku katakan kepada mereka..
Seandainya aku mati, akan ada di manakah kalian?
Apakah logika dan hati akan terus bertengkar?
Sejenak mereka diam..
Kedua mata tertuju pada sudup pandangan yang berbeda, kemudian mendekat dan akhirnya semua tertuju padaku yg wajahnya sedang kepayahan..
Masih kutatapi mereka,,
Sungguh sayang jika aku harus kehilangan kalian.,
Batas dari segala kemampuanku adalah kalian..
Kalian adalah sisi terbaik dalam hidup ini..
Jika hati tersakiti logika punya bnyk cara untuk mengobatinya..
Jika logika tersesat ada hati sebagai tuntunan melangkah yang terbaik..
Kalian adalah aku"
Suara angin mengagetkanku,
Kenapa aku harus berada di sini..
Ah paling tidak aku bisa menemukan pemikiran seperti ini..
Aku tersadar karena akal dan logika belum cukup mampu untuk menjalani hidup.,
Ah bukan tidak mampu hanya perlu penguatan..
Dan waktu telah mengubah warna dari kegelapan kini jingga,, aku tersadar dunia masih mengajakku untuk berlari..
Menembus batas menemukan kebutuhan hati dan logika serta raga ini..
Dalam nuansa hening aku berdoa,,
' Tuhan, engkau tidak akan pernah mengharapkan sesuatu dariku, aku tau itu..
Tapi Tuhan aku masih selalu membutuhkan kehadiranMu sebagai penuntun arah hati dan logika bertindak..
Tuhan, hebat-hebatkanlah diri ini supaya aq bisa membahagiakan orang-orang yang aq cintai, yg mencintaiku, yg dekat dganku dan yg jauh dariku..
Amiin..
Komentar
Posting Komentar